Sultan Tidore: Kami Sudah Berkali-kali Mati untuk Indonesia | Liputan 24 Maluku Utara
www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Sultan Tidore: Kami Sudah Berkali-kali Mati untuk Indonesia

Posted by On 10:19 PM

Sultan Tidore: Kami Sudah Berkali-kali Mati untuk Indonesia

Sultan Tidore: Kami Sudah Berkali-kali Mati untuk Indonesia

Memasuki hari kedua tim Kirab Satu Negeri (KSN) di Maluku Utara, rombongan tim menelusuri jejak perjuangan Kesultanan Tidore.

Sultan Tidore: Kami Sudah Berkali-kali Mati untuk Indonesia

Memasuki hari kedua tim Kirab Satu Negeri (KSN) di Maluku Utara, rombongan tim menelusuri jejak perjuangan Kesultanan Tidore.

Dalam perjalanannya, ketujuhbelas Bendera Merah Putih diseberangkan dengan perahu kayu oleh Banser. Setelah tiba di Dermaga Tidore Kepulauan, perjalanan dilanjutkan ke Kedaton Tidore.

Sultan Husain Alting Sjah serta Pemerintah Kota Tidore yang menunggu di halaman Kedaton langsung menggelar acara Apel Serah Terima Bendera Merah Putih dari Ketua Pengurus Wilayah Ansor. Rombongan KSN mendampingi asisten Wali Kota menuju Kedaton dan menyerahkan pada Sultan Tidore sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan masyarakat Maluku Utara, khsususnya Tidore untuk Indonesia.

Puncak rangkaian Kirab Satu Negeri di Maluku Utara dilakukan dengan menggelar acara dialog kebangsaan dengan tema “Sultan Nuku dan Kedaulatan NKRI", di Balai Kedatong belakang Kesultanan.

Menurut Sultan Husain, pemilihan tema "Sultan Nuku dan Kedaulatan NKRI" memang sengaja dipilih. Sultan Husain sengaja memilih tema itu, agar generasi mendatang khususnya Milenial memahami posisi strategis Tidore dan berdirinya Indonesia.

“Slogan NKRI Harga Mati tidak cocok untuk Maluku Utara, khususnya Tidore Kepulauan. Sebab kami sudah mati berkali-kali untuk Indonesia," tegas Sultan Husain, kemarin.

“Sejak dulu Tidore sudah menyerahkan sepertiga wilayah kerajaan termasuk Papua untuk Indo nesia. Bahkan mengirim pemuda Papua untuk mewakili Kerajaan Tidore secara resmi di momentum Sumpah Pemuda. Ini merupakan bentuk keikhlasan dan ridhonya kerajaan bergabung menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tandas Sultan.

Untuk melengkapi sejarah Sultan Nuku dan keterlibatannya dalam kemerdekaan Indonesia, Sultan Husain meminta Perdana Menterinya untuk ikut bicara. Kurang lebih tiga puluh menit Muhammad Amin Faruq mewakilinya. Di sela-sela membawakan materi, Amin Faruq sempat berulang kali meneteskan air mata ketika membahas tentang asal muasal Bendera Merah Putih, bendera yang sekarang menjadi lambang kebesaran Bangsa Indonesia.

"Merah darah membasahi bumi, putih kain membalut luka," ungkapnya.

Menurutnya, warna merah putih merupakan hasil dialog kakeknya dengan Soekarno saat di penjara. Sehingga Merah Putih bukan sekadar simbol kenegaraan baginya, melainkan warisan keluarga yang juga harus dijaga meski nyawa taruhannya.

Sementara da ri Pimpinan Pusat GP Ansor Muhammad A Idris menekankan bahwa bentuk nyata nasionalisme dan mempertahankan keutuhan NKRI bagi generasi milennial adalah akses pendidikan yang merata dan berkualitas.

"Legal akses pendidikan untuk mendapatkan pendidikan terbaik harus diberikan, termasuk generasi muda Tidore. Ini bukan semata-mata soal masa depan perorangan melainkan wujud konkrit mendistribusikan kader bangsa masuk universitas terbaik maupun membekali kecakapan kerja yang siap bersaing," kata Idris.

Setelah dialog acara dilanjutkan ziarah ke Makam Sultan Nuku, Makam Ibu Aminah, penjahit pertama bendera Merah Putih di Tidore dengan benang serabut nanas.(*)

Editor: Content Writer Ikuti kami di Fakta Terbaru V ideo Asusila UIN Bandung, Perekam Seorang Wanita hingga Suaranya 'Bocor' Sumber: Berita Maluku Utara

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »