Kuskus mata biru Ternate yang kian langka | Liputan 24 Maluku Utara
www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Kuskus mata biru Ternate yang kian langka

Posted by On 6:11 PM

Kuskus mata biru Ternate yang kian langka

Kuskus mata biru terlihat di kota Ternate, Maluku Utara, Senin (9/7/2018).
Kuskus mata biru terlihat di kota Ternate, Maluku Utara, Senin (9/7/2018). | Hairil Abdul Rahim /Beritagar.id

Ternate di Maluku Utara memiliki kekayaan alam yang patut dibanggakan. Salah satunya adalah kuskus mata biru yang bernama latin Phalanger sp ternate.

Namun begitu menurut seorang petani pala dan perajin bambu, Ismail Soleman (66), kuskus dan hewan endemik Ternate mulai jarang ditemui. "Selain burung, kuso (kuskus) mulai langka. Kalau dulu banyak. Biasanya di pohon belakang rumah sini. Bahkan saat ambil bulu (bambu) di kebun sering dapat," katanya kepada Beritagar.id, Senin (9/7 /2018).

Penduduk Tongole dan Marikrubu, Ternate, memang menyebutnya Kuso. Namun; hewan omnivora pemakan serangga, daun, dan buah mulai sulit ditemui.

"Banyak warga yang sering datang berburu Kuso untuk dikonsumsi. Mereka datang dari luar lingkungan Tongole. Bukan penduduk sini. Para pemburu ini biasanya bawa senjata (senapan angin), itu untuk tembak Kuso," lanjut Ismail.

Selain faktor manusia yang memburu hewan mamalia dilindungi undang-undang itu, hilangnya kuskus Ternate juga disebabkan karena pengalihan fungsi lahan hutan dan kebun menjadi perumahan dan permukiman. Penduduk pun kian bertambah.

Ternate adalah salah satu kota di Provinsi Maluku Utara, Indonesia bagian Timur. Luas kota berbentuk bulat kerucut itu hanya 5.795 km dan didominasi oleh laut. Sementara luas daratan 162 km. Sisanya laut yang mencakup 5.633 km dari luas pulau itu.

Secara administrasi, Kota Ternate terdiri dari 7 Kecamatan dan 77 Kelurahan. Sensus penduduk 20 15 menyebutkan, populasi Kota Ternate adalah 212.997 jiwa dengan kepadatan rata-rata 1.315 orang per km.

Orang dapat mengelilingi pulau tersebut sekitar 2 jam dengan mobil. Namun, untuk menikmati kekayaan flora dan fauna endemik di pulau ini, orang harus siap kecewa. Semuanya mulai punah karena pengaruh alih fungsi lahan perkebunan dan hutan.

"Kuso ini kalau saya perhatikan tidak suka keramaian. Karena sebelum banyak rumah di Kelurahan Marikrubu dan Maliaro, Kuso masih banyak dijumpai dekat sini. Di pohon durian dan pohon nangka. Tapi semenjak banyak rumah, Kuso sudah jarang saya temukan," ujar Ismail.

Meski belum beruntung menemukan kuskus mata biru di hutan sekitar Tongole tempat habitatnya berkumpul, tapi hewan mamalia tersebut masih berhasil diabadikan. Apalagi Ismail memberi sinyal bahwa di lingkungannya terdapat salah seorang pemuda Tongole yang memelihara hewan kuskus.

Ia adalah Rahmin Safrudin. Beritagar.id menyambangi kediaman lel aki 31 tahun itu. Sambil membersihkan kendaraan roda dua, suami Siti Nurhayati itu membenarkan bahwa ia memelihara dua ekor kuskus beda kelamin dari hutan Tongole.

Rahmin pun mengizinkan Beritagar.id untuk melihatnya. "Iya. Boleh. Keduanya ada di atas pohon jambu," kata Rahmin sambil menunjuk ke arah kuskus mata biru, hewan peliharaannya yang dirawat cukup baik sejak 2012.

Rahmin mengaku senang dengan hewan peliharaannya, tapi lelaki yang berprofesi sebagai tukang ojek ini tidak tahu bila Blue-eyed cuscus tersebut dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. UU itu menyebutkan bahwa setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, memiliki, memelihara, dan memperniagakan (memperjualbelikan) hewan yang dilindungi.

"Sehari-hari saya beri makan pisang. Semua jenis buah juga dimakan. Kalau siang dia tidur. Biasanya sore dan malam hari sudah gelap baru keluar (beraktivitas). Setiap m alam, atap rumah ini bunyi karena Kuso berjalan di atasnya," ujar Rahmin.

Hewan peliharaannya itu pernah didatangi peneliti dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan seorang peneliti lain pada 2017. Mereka mendokumentasikannya dalam bentuk foto. Bahkan salah seorang peneliti sempat meminta salah seekor kuskusnya, tapi Rahmin menolak.

Abas Hurasan, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Ternate BKSDA Provinsi Maluku, menjelaskan bahwa hewan kuskus masuk kategori dilindungi. Setiap hewan yang dilindungi undang-undang ini jika ditemukan ada warga yang memeliharanya akan diambil.

Abas menyarankan kepada warga yang ingin memelihara atau memperdagangkan hewan yang dilindungi, sebaiknya diambil dari proses penangkaran satwa itu. Meski demikian, sejauh ini wilayah Provinsi Maluku Utara belum ada penangkaran satwa liar.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya menyebutkan bahwa sanksi pidana bagi orang yang dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap satwa dilindungi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 Ayat 2 itu adalah pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000.

Abas menambahkan, keberadaan kuskus mata biru ini merupakan endemik Maluku Utara yang hidup di hutan Pulau Ternate. Juga ada kuskus jenis lainnya yang hidup di hutan Pulau Sanana, Halmahera, Bacan, Obi, Gebe dan Pulau Morotai.

Abas mengemukakan, sebaran spesies tersebut di Maluku Utara mencapai 7 jenis. Namun, Abas membenarkan bahwa habitat hutan sebagai tempat tinggal spesies tersebut terancam.

DR M. Natsir Tamalene, Ketua Pusat Studi Konservasi Keanekaragaman Hayati Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, dalam sebuah artikelnya menjelaskan bahwa kuskus adalah salah satu generasi marsupial yang tergolong dalam genus (marga) Spilocuscus ata u bertotol dan diklasifikasikan ke dalam genus Phalangeridae (tidak bertotol).

Bagi Natsir, kuskus merupakan hewan mamalia berkantung yang endemik. Kuskus juga tersebar di wilayah Papua, Papua New Guinea, dan Australia (Menzies 1991, Petocz 1994 dan Flannery 1995). Ada pula sebaran kuskus di pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan kepulauan Timor.

Adapun dua genus kuskus ini bisa ditemukan di Kepulauan Maluku, Pulau Halmahera, Bacan, dan Pulau Morotai (Latinis K 1996). Natsir menambahkan bahwa kuskus juga dilindungi oleh Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Hewan.

Secara global dua genus kuskus setempat di antaranya telah terdaftar dalam Appendix II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). International Union Conservation of Nature yang rajin melakukan upaya konservasi flora dan fauna di dunia juga memasukkan kuskus ke dalam redlist (buku merah) dan tergolong sebagai hewan vulnerable (terancam) karena populasinya makin berkurang.

"Hewan mamalia yang memiliki karakter morfologi yang mempesona ini karena wilayah persebarannya terbatas sehingga menjadi dasar penetapannya sebagai hewan yang dilindungi oleh pemerintah RI melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 247/KPTS/UM/4/1979," lanjut Natsir ketika dihubungi melalui aplikasi pesan instan WhatsApp, Kamis (12/7).

Di Ternate, kekayaan flora dan fauna yang dilindungi bukan hanya kuskus mata biru. Data Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Maluku menyebutkan ada pula burung Nuri dan Kakatua Putih yang lagi-lagi kini mulai sulit dijumpai di hutan setempat.

Data BSKADA Maluku ini juga menyebutkan keanekaragaman flora dan fauna yang terdapat di pesisir pantai laut Pulau Ternate yang keberadaannya pun kian langka. Misalnya, ikan laut jenis Duyung (Dugong) yang biasanya di temukan bermain di depan Pantai Falajawa, Kelurahan Mahajirin, Kecamatan Ternate Tengah.

"(Jadi) kalau (flora dan fauna) di Pulau Ternate itu bukan punah. Tetapi habitatnya sudah tidak ada jadi dia pindah ke tempat lain," kata Abas.

"Kalau terumbu karang dan ikan Duyung itu biasanya dipicu karena adanya kapal-kapal. Iya termasuk reklamasi pantai sudah tentu mengganggu ekosistem yang bergantung hidup di sekitar pesisir pantai Pulau Ternate," teganya.

Situasi ini menjadi kebalikan dari zaman lampau. Padahal pada abad 19, pulau Ternate dahulu pernah menjadi tempat studi dan pusat penelitian salah seorang naturalis dunia, Alfred Russel Wallace.

Naturalis atau peneliti hayati asal Inggris itu melakukan jelajah ilmiah di Malaysia, Singapura, dan Indonesia selama delapan tahun pada 1854-1862. Di Indonesia bagian Timur, ia bertandang ke Pulau Ternate sampai delapan kali pada 1858-1861.

Selama kurun waktu itu; Wallace juga berjelajah ke Pulau Halmahera, Bacan, Makian, Ambon, Buru, Kei, dan Papua. Wallace menjadikan Ternate sebagai markas dalam penjelajahan di Indonesia bagian Timur.

Bahkan pada Februari 1858; Wallace mengirim makalah panjang ke naturalis lain asal Inggris, Charles Darwin. Makalah itu menyangkut evolusi seleksi alami dan itu dikembangkan oleh Darwin menjadi buku terbitan 1859 berjudul "The Origin of Species" (Asal Usul Spesies).

Dalam makalahnya, Wallace menghimpun kumpulan 5.000 spesimen hayati (mamalia, insekta, burung, dan tumbuh-tumbuhan). Satu hewan yang ditelaah ialah kuskus mata biru.

Pada tahun 1869, Wallace menerbitkan buku dalam dua jilid mengenai hasil jelajah ilmiahnya berjudul Malay Archipelago. Tahun 2019 merupakan peringatan 150 tahun terbitnya buku akbar Wallace itu dan lembaga ilmiah di Inggris akan merayakannya.

Perhatian terhadap pelestarian ekosistem dan hayati endemik Maluku Utara yang dimiliki bumi para sultan di M oloku Kieraha (sebutan lain Maluku Utara) itu juga diabadikan oleh pemerintah RI dalam uang kertas Rp 1.000 berlatar Pulau Maitara, depan Pulau Ternate. kuskus ini juga masuk dalam perangko PT Pos Indonesia terbitan 2012 meski hewan yang ada dalam perangko itu adalah kuskus tutul hitam asal Papua.

Sementara untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim akibat hutan dan mangrove yang sudah ditebang, saat ini pemkot Ternate melakukan beberapa langkah mitigasi. Mereka menanam ribuan bibit mangrove di sekitar wilayah terdampak abrasi pantai di Ternate.

Bahkan, pemprov Maluku Utara melalui Dinas Kelautan dan Perikanan, tahun ini berencana menerbitkan Peraturan Daerah Tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi Maluku Utara.

"Perda ini akan mengatur tentang penentuan alokasi ruang seperti wilayah zona tangkap, wilayah konservasi, ekonomi wisata, dan zona batas pesisir," kata Buyung Radjiloen, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Malut.

Buyung menambahkan, pemberlakuan perda ini masih akan menyesuaikan dengan pola ruang di sepuluh Kabupaten Kota wilayah Provinsi Kepulauan itu. "Kalaupun ada pemda yang melakukan pembangunan pelabuhan-pelabuhan baru maupun kegiatan reklamasi lainnya maka akan dikaji sesuai ketentuan Perda RZWP3K ini," katanya.

Sumber: Google News | Liputan 24 Ternate

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »