Analisis: Tiga Faktor Keunggulan Suara AHM-Rivai di Pilgub ... | Liputan 24 Maluku Utara
www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Analisis: Tiga Faktor Keunggulan Suara AHM-Rivai di Pilgub ...

Posted by On 6:31 PM

Analisis: Tiga Faktor Keunggulan Suara AHM-Rivai di Pilgub ...

Analisis: Tiga Faktor Keunggulan Suara AHM-Rivai di Pilgub Maluku Utara Submitted by Nurkholis Lamaau on 3 July 2018 ahm

Calon Gubernur Maluku Utara Ahmad Hidayat Mus (AHM) mengenakan rompi orange milik KPK usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan korupsi proyek lahan Bandara Bobong, Kabupaten Kepulauan Sula. (IST)

KABAR.NEWS, Makassar - Mengenakan rompi orange, Ahmad Hidayat Mus (AHM) keluar dari ruang pemeriksaan KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (2/7/2018) pukul 18.38 Wib. AHM kemudian masuk ke mobil tahanan didampingi kuasa hukumnya, Wa Ode Nur Zainab.

Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada KABAR.NEWS, Selasa (3/7/2018) mengatakan, setelah memeriksa Ahmad Hidayat Mus dan Zainal Mus (ZM) dalam kasus Tipikor pembebasan lahan Bandara Bobong pada APBD Tahun Anggaran 2009 di Kabupaten Kepulauan Sula, dan terpenuhinya ketentuan di Pasal 21 KUHP, maka untuk sementara keduanya ditahan.

"Kami melakukan penahanan terhadap AHM dan ZM selama 20 hari ke depan. Terhitung hari ini, AHM ditahan di Rumah Tahanan Cabang KPK di Kav K-4. Sedangkan ZM ditahan di Rumah Tahanan Cabang KPK di Pomdam Jaya Guntur," jelas Febri.

AHM yang mencalonkan diri bersama pasangannya Rivai Umar di Pemilihan Gubernur Provinsi Maluku Utara itu, untuk saat ini memperoleh suara terba nyak versi Real Count KPU dengan presentase 31,82 persen atau 174.889 suara.

Suara tersebut berdasarkan dari 99,11 persen data yang dihimpun KPU dari 2.118 TPS. Di mana, AHM-Rivai memenangi suara di empat daerah dari 10 kabupaten dan kota di Provinsi Maluku Utara.

Namun, AHM ditetapkan sebagai tersangka oleh lembaga anti rasuah itu pada 16 Maret 2018 atas kasus dugaan korupsi proyek fiktif lahan Bandara Bobong, ketika dirinya menjabat sebagai Bupati Kepulauan Sula periode 2005-2010. Sedangkan Zainal Mus menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Sula 2009-2014.

Diduga, anggaran untuk proyek tersebut sudah dicairkan, yang kemudian dikorupsi keduanya. Dugaan kerugian negara berdasarkan penghitungan dan koordinasi dengan BPK sebesar Rp3,4 miliar sesuai dengan jumlah pencairan SP2D kas daerah.

Duit senilai Rp1,5 miliar itu diduga ditransfer kepada Zainal Mus sebagai pemegang surat kuasa menerima pembayaran pelepasan tanah dan senilai Rp850 juta diterima oleh Ahmad melalui pihak lain untuk menyamarkan. Sedangkan sisanya mengalir ke pihak lain.

Status Tersangka dan Pragmatisme Pemilih

fvfvvf

Real Count Pilgub Maluku Utara (Foto: KPU)

Meski berstatus tersangka, hal itu tampaknya tak berpengaruh terhadap perolehan suaranya di Pilgub Malut. Lantas mengapa AHM-Rivai lebih mendominasi di Pilgub Malut, meskipun berstatus sebagai tersangka?.

Akademisi Komunikasi Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Dr. Aswar Hasan berpendapat, keunggulan suara kandidat kepala daerah yang berstatus tersangka ditengarai dua hal.

"Pertama, kenapa bisa begitu, karena ada kemungkinan kekuatan besar yang turut bermain. Itu boleh jadi ada peranan birokrasi ikut bermain yah. Karena kan dia pernah berkuasa," ujar Aswar Hasan kepada KABAR.NEWS, Sen in (2/7/2018).

Mantan Ketua KPID Sulsel ini juga berpendapat, ketika kandidat yang tersandung kasus hukum lantas meraih suara terbanyak di Pilkada, bisa jadi dibackup oleh kekuatan finansial yang cukup banyak.

Selain dua faktor itu, Aswar Hasan menilai, ada peranan media massa yang mungkin saja lebih menonjolkan sisi positif AHM, ketimbang sisi negatifnya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi.

"Media juga tidak massif memberitakan status tersangka yang bersangkutan. Boleh jadi publikasi pencitraan dia lebih kuat dari pada status tersangkanya. Karena opini masih berpihak sama dia," katanya.

Berdasarkan data real count KPU, Jumat (29/6/2018) AHM - Rivai tercatat meraih 31,82 persen atau 174.889 suara dari 2.118 TPS. Pasangan itu unggul dari rivalnya Abdul Gani Kasuba - Al Yasin Ali (AGK - YA) yang terpaut 1,42 persen. AGK- YA meraih 30,40 persen atau 167.088 suara.

Aswar Hasan menilai, tingkat keterpilihan yang cukup tinggi atas kandidat yang tersandung kasus hukum, juga mencerminkan masyarakat atau pemilih dalam menentukan pilihannya karena dilandasi pragmatisme.

"Ia, perilaku masyarakat yang masih pragmatis. Ini kencenderungan yang terlihat dari fenomena ini," pungkas Dosen Pasca Sarjana Unhas ini.

Secara etika politik, kata dia, hal itu tak memberikan pendidikan atau edukasi politik terhadap masyarakat. "Kalau dilihat dari etika politik, semestinya lebih awal (AHM) tidak maju dalam proses politik. Meski tidak dilarang yah, Tapi untuk pendidikan politik ke masyarakat," tandasnya.

  • Arya Wicaksana
Sumber: Berita Maluku Utara

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »