Public Speaking, Master of Ceremony
Public Speaking, Master of Ceremony
www.AlvinAdam.com

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Daerah Ini Mengklaim Tarian Adat “Soya-Soya” Bukan dari Ternate

Posted by On 11:55 AM

Daerah Ini Mengklaim Tarian Adat “Soya-Soya” Bukan dari Ternate

Daerah Ini Mengklaim Tarian Adat
Tampak dua bocah saat memperagakan tarian adat Soya-soya foto Human Geography


HALMAHERA SELATAN,CAKRAWALA.CO-
Soya-soya merupakan tarian adat yang sangat melenggenda di jazirah Moloko Kieraha (Maluku Utara), simbol tarian itu adalah sebuah gerakan tarian perang yang digunakan pasukan adat Kesultanan Ternate sewaktu menjemput jenazah Sultan Khairun,Sultan ke-24 Ternate yang tewas terbunuh oleh pasukan portugis di Benteng Nostra Senora Del Resario (Benteng Kastela) tahun 1570 silam.

Soya-soya dua kali tercatat di Book Of Record Museum Rekor Indonesia (Muri), sebagai tarian dengan peserta terbanyak yakni mencapai 8.125 penari yang diselegarakan warga Ternate dalam rangka memeriahkan hari jadi Sultan Ternate, Mudhafar Syah yang ke-76 tahun 2011 dan di tahun 2015 sebagai tarian terpanjang mengelilingi pulau Ternate yang melibatkan, 6.902 siswa sekolah.

Daerah Ini Mengklaim Tarian Adat
Rarian Soya-soya pecahkan rekor Muri foto: Ternate Smile â€" Blogspot

Namun cikal-bakal lahirnya tarian itu diklaim bukanlah dari Ternate melaikan dari negeri Ngelo (Kayoa) Kabupaten Halmahera Selatan. Diklaimnya soya-soya merupakan sebuah kearifan lokal negeri Ngelo, dibuktikan masyarakat Kayoa melalui komunitas Laguliang saat menggelar HUT Soya-soya yang ke-456 Senin,19 Maret 2018 lalu.

Seperti halnya yang diketahui masyarakat Malut, tarian yang dipersembahakan dalam acara tersebut menceritakan bala pasukan kerajaan Ternate dalam upaya penghusiran paksa ekspansi portugis di Ternate tahun 1570 . Selain itu, tarian soy a -soya dahulunya dikenal dengan sebutan Wowak-wowak.

Wowak-wowak (Soya-soya ) yang ditampilkan comunitas Laguliang Kayoa sangatlah berbeda dengan tarian soya-soya yang pernah disajikan di berbagai acara ceremonial maupun pentas skala nasional. Yang mencolok adalah gelora semangat penari dan jumlah gerakan tarian.

Daerah Ini Mengklaim Tarian Adat
Kecamatan Kayoa,Kabupaten Halmahera Selatan Foto: dok Cakrawala

Kepada Cakrawala.co, sejarawan sekaligus pawang tarian Wowak-wowak era 60-an Faris A.Wally,mengungkapkan Soya -soya bermula pada kata “Wowak-wowak (mengelabuhi) kata itu, menurut dia, diumpamakan seperti gerombolan ikan teri yang mengelabuhi predator dengan cara membuat formasi khusus yang menggabungkan seni perang dan strategi menghidar.

Baca Juga 100 Mahasiswa dan Anak Muda Kreatif Ikut Napak Tilas Kejayaan Maluku

Ia menceritakan , di tahun 1968 sewaktu dirinya duduk di kelas empat Sekolah Rakyat (SR) para orang tua di desa Guruapin, Kecamatan Kayoa wajib mengajarkan tarian Wowak-wowak kepada para generasi penerus mereka , Hal ini bersifat umum sebagai isyarat mengigatkan kepada mereka atas peristiwa sejarah Sultan Khirun sebagai bahan refleksi dan renungan.

” Bila diukur dari orang tua kita terdahulu di tahun 1570 -2018 usia Soya-soya sudah 488 tahun . Ini adalah tarian perang , dan yang ada sekarang diperagakan hanya untuk hiburan penerima tamu,” ujar dia.

Dijelaskan Faris,versi aslinya tarian itu berjumlah dua belas gerakan atau (bunga). Konon diceritakan, tarian soya-soya-soya sangat sulit diketahui versi aslinya, sehingga pihak kesultanan Ternate mengutus beberapa utusan mereka mencari para seniman ke beberapa wilayah kekuasaan kesultanan Ternate,untuk mempelajari tarian itu,sehingga di temukanlah tarian Soya-soya di pulau Kayoa,Kabupaten Halmahera Selatan, sehingga beberapa dari merek a berguru di negeri itu.

” Mereka hanya diajarkan hanya enam sesi gerakan tidak secara tuntas seperti aslinya 12 gerakan, Hal itu sengaja dilakukan dengan alasan agar mereka yang menuntutnya tidak menduplikat keseluruhan gerakan tarian,” ujar dia.

Diwawancarai di kediamanya, mantan pensiunan guru itu secara rinci kepada Cakrawala.co memperagakan dua belas gerakan tarian Soya-soya versi aslinya.Dimana, gerakan atau bunga pertama adalah gerakan “Dai” (Kesiagaan).

“Kita menghadapi musuh itu dengan sikap siaga. Biasanya diluar sana meraka gunakan gerakan pertama sebagai penghormatan dan itu tidak lagi bermakna sebagai tarian perang tetapi tarian penerima tamu ,” ujar dia

Lanjut Fariz, gerakan kedua adalah gerakan yang siap menghadapi musuh dengan cara menatap musuh dengan wajah yang begis atau geram. Gerakan ketiga adalah gerakan menendang musuh .

Makna gerakan ke empat,jelas Fariz, adalah gerakan menusuk musuh dengan menggunakan pedang yang disiapkan kedalam ngana-ngana ( Daun palm) yang di buat menyerupai ijuk untuk mengelabuhi musuh.Selain itu, menyusul dua gerakan lainnya bermakna menusuk dan memukul musuh yang telah jatuh tersungkur.

” Gerakan ke lima adalah gerakan menyatakan sifat kokoh di hadapan musuh dengan memegang pinggang yang artinya menantang.Gerakan ke enam meletakan prisai (salawaku) dan ngana-ngana dan siap untuk berhadapan dengan musuh,” ucap Faris

Makna ke tujuh Adalah gerakan membentak musuh, gerakan ke delapan adalah gerakan komunikasi menyuruh para penari soya lainnya untuk menujuk melihat jenazah Sultan Khairun.Gerakan ke sembilan adalah gerakan mengelilingi jenazah Sultan Khairun.

” Gerakan ke sepuluh gerakan mengangkat jenazah Sultan Khairun untuk dikeluarkan dari benteng Nostra Senora Del Resario. Gerakan ke sebelas gerakan mengelabuhi musuh dengan cara menyembunyikan (menutupi) Zenajah Sultan Khirun dengan menggunakan alat-alat tarian.Sementara Gerakan ke dua belas adalah gerakan kegembiaraan (Somore) pasukan soya-soaya yang berhasil merebut jenazah Sultan dari benteng portugis ,” jelas Fariz.

Baca Juga Satlantas Cianjur Kunjungi SLB Cahaya Gemilang Pertiwi

Lebih jauh, Ia mengutarakan perasaan tidak percaya bila ada tempat lain atau individu yang bisa mendiskripsikan setiap makna tarian soya -soya kalau bukan warga Kayoa.

” Kalau hari ini mereka klaim bahwa tarian itu dari Ternate saya rasa kita bisa bandingkan cerita sejarah tarian itu,”tutur fariz.

Disindir soal tarian Soya-soya sempat menjadi buah bibir di Medsos oleh kalangan Nitizen karena dibawakan oleh penari wanita saat ajang pencari bakat di salah satu stasiun Tv nasional,Fariz mengungkapkan perasaan kecewa dan prihatin sebab pertunjukan itu adalah pelecehan.

Daerah Ini Mengklaim Tarian Adat
Penari Soya-soya wanita yang sengaja ditampilkan p ada ajang pencarian bakat

” Tarian itu dilakoni oleh laki-laki bukan wanita, memang ada bayak versi yang dibawakan dengan kombinasi tarian soya-soya, dana-dana , togal dan beberapa tarian lain namun hakekatnya tarian soya-soya dibawakan oleh laki-laki yang berjiwa kesatria buka perempuan , kami warga Kayoa mengecam pertunjukan itu,” tegas dia.

Ditanya soal peran Kayoa dalam tatanan kesultanan Ternate, ia mengaku bayak tempat di kayoa yang bersentuhan langsung dengan Ternate, seperti tempat singgah Sultan dan Permaisuri.Selain itu, Kayoa merupakan daerah penuh seniman sehingga setiap acara,pertunjukan seni budaya kesultanan Ternate dahulunya banyak melibatkan masyarakat Kayoa.

” Para seniman-seniman dari negeri Kayoa dahulu di jemput pihak kadaton menuju Ternate dengan kapal kesultanan bernama Nora untuk mementaskan seni taradisi adat Ternte bagi para tamu penting,” tutup Fariz.***(IVN/ID)

Bagaimana menurut An da ?

komentar

Sumber: Google News | Liputan 24 Ternate

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »